Tampilkan postingan dengan label obyek wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obyek wisata. Tampilkan semua postingan

Panorama Pulau Jeju, Korea Selatan

Selasa, 05 Juli 2011

Korea Selatan memiliki satu pulau yang tidak boleh dilewatkan jika anda mengunjungi Korea Selatan. Ya, nama pulau itu adalah Pulau Jeju. Pulau Jeju terkenal dengan keindahan dan keeksotisannya. Banyak pengantin baru Korea yang melewati bulan madunya di Pulau Jeju.



Pulau Jeju ini bisa ditempuh 1 jam perjalanan dengan pesawat dari Seoul dan 11 jam perjalanan jika menggunakan feri dari Pusan. Kalau bisa disamakan kemasyhurannya dengan pulau di Indonesia, mungkin kemasyhuran Pulau Jeju di Korea setara dengan Pulau Bali di Indonesia. Banyak spot spot menarik yang layak dikunjungi seperti gunung, pantai, air terjun, tebing dan bebatuan bebatuan indah disana. Pengunjung Pulu Jeju ternyata tidak hanya wisata domestik dari Korea Selatan, namun ada juga wistawan asing yang kebanyakan berasal dari Jepang, Hongkong dan China.

Ada tempat yang sangat menarik di Pulau Jeju yaitu Gunung Halla (Halla San). Tinggi gunung ini mencapai kurang lebih 1950 meter sehingga anda yang mempunyai hobi hicking bisa mendaki gunung. Gunung ini akan terlihat lebih indah pada saat musim salju karena salju akan menutupi bagian puncaknya..Hmmm, serasa sedang ikut dalam syuting film Korea ya...Di saat musim panas pun gunung ini tidak kalah indahnya. Ada banyak kabut tipis yang menutupi puncak gunung sehingga memberikan kesan romantis tersendiri bagi orang yang mengunjunginya. Itu sebabnya para pasangan yang berbulan madu ke Pulau Jeju biasanya lebih memilih musim panas daripada musim dingin.



Selain itu ada juga pantai Jungmun. Pantai ini sangat indah karena warna pasirnya beraneka macam. Ada hitam, putih dan merah. Di pantai ini kita juga bisa olahraga air seperti bermain ski atau berselancar. Pantai Jungmun tidak terlalu ramai, sehingga banyak adegan dalam film Korea di shoot di pantai ini.



Yang membuat menarik dari Pulau Jeju bukan hanya dari segi kondisi alamnya yang indah, namun juga dari segi keramahan para penduduknya yang membuat kita merasa nyaman berlibur di Pulau Jeju.
Mungkin suatu saat jika anda memiiki rezeki lebih, bolehlah sekali kali mengunjungi dan merasakan eksotisme dari Pulau Jeju di Korea Selatan ^^

sumber gambar : google image dan korea tourism organization

4 PANTAI DENGAN WARNA PASIR TERINDAH

Selasa, 24 Mei 2011



Dibelahan bumi ini ternyata ada perbedaan-perbedaan pada pasir pantai, yakni pada warna dan teksturnya. Akan tetapi, perbedaan ini justru membuat pantai-pantai ini semakin menarik dan indah tentunya. Mari kita lihat bersama-sama pantai-pantai yang memiliki pasir-pasir yang indah ini.


Pantai pasir hijau di Papakolea, Hawaii


Pantai Papakolea yang kaya akan mineral olivin (salah satu unsur utama yang dihasilkan oleh endapan lava gunung berapi di Hawaii) memiliki sebuah lekukan yang nyaris seperti kerucut silinder dengan pasir berwarna hijau tua yang surealis, terhampar bagai sebuah padang rumput. Pantai ini dapat Anda temukan di sebelah selatan Big Island, terlindungi oleh sebuah bukit yang lumayan tinggi.

Pfeiffer Beach di kawasan Big Sur, California, yang berpasir ungu muda.



Di malam hari, ketika sinar bulan memantul perlahan-lahan, maka partikel mangan yang mewarnai pasir hingga terlihat ungu akan tampak bercahaya, dan pantulannya di permukaan air tampak seperti aurora. Terbentang dari sebelah selatan pantai hingga membentang ke utara, warna pasir secara bertahap akan tampak makin pekat. Di siang hari, warnanya juga masih tampak mempesona.

Pantai berpasir merah muda di Harbour Island, Bahamas



Pasir di kawasan Harbour Island terbuat dari formula alam yang terdiri dari sedikit serpihan karang, cangkang kerang, serta kalsium karbonat dari invertebrata laut yang berukuran sangat kecil, serta tambahan bahan rahasia berupa kandungan Foraminifera, amuba mikroskopis yang memiliki cangkang tubuh berwarna merah atau pink cerah. Dengan kesabaran yang hanya dimiliki oleh alam, proses jutaan tahun menghasilkan butiran pasir pantai yang tampak indah, merona merah muda.

Pantai berpasir kaca di Fort Bragg, California


Lokasi yang suatu ketika pernah menjadi tempat pembuangan sampah ini kini telah menjelma menjadi salah satu pantai buatan manusia yang paling menakjubkan di dunia. Proses pasang surut pantai yang telah berjalan selama beberapa dekade telah menghaluskan pecahan-pecahan kaca hingga menjadi butiran kristal bergerigi yang nyaman di kaki. Hamparan kerikil kaca yang bersekongkol dengan butiran pasir Fort Bragg adalah salah satu destinasi wisata yang harus Anda kunjungi diantara semua gelimang menyilaukan Kota California.

Sumber : http://samudrabirucinta.blogspot.com

PULAU TERKECIL DI DUNIA TERNYATA ADA DI INDONESIA


Indonesia ternyata memang banyak menyimpan hal-hal yang bisa dijadikan sebagai rekor dunia. Seperti Pulau Singkawang yang diakui dunia sebagai Pulau Terkecil di dunia.
Pulau Simping Merupakan Aset Pemerintah Kota Singkawang yang terletak di Selatan Singkawang, Kalimantan Barat, pulau ini termasuk dalam kawasan wisata pantai Taman Pulau Sinka. Untuk Menjangkau Pulau Simping ini melalui Jalan darat yang mana jika dari kota Singkawang menuju Pantai Teluk Mak Jantu, atau Taman Pulau Sinka hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 Menit. Namun bila dari arah Pontianak membutuhkan waktu sekitar 3 Jam perjalanan menuju ke arah Kota Singkawang.


Untuk sampai Ke Taman Pulau Sinka, harus melewati jalan yang sedikit berliku, maklum Taman Pulau Sinka adalah tempat wisata yang letak nya jauh dari Jalan Raya, yang mana tempat wisata ini di kelilingi oleh bukit - bukit yang menghijau, dan untuk memasuki kawasan wisata ini Anda di hari biasa hanya perlu mengeluarkan biaya 15 Ribu rupiah per orang. Jika udah membayar tiket masuk, pengunjung bisa berjalan - jalan di atas bukit yang menghadap kepantai serta dari lereng bukit yang jalan nya lumayan mulus bisa menyaksikan betapa kecil nya pulau Simping ini.


Pulau Simping merupakan daratan yang tediri dari pasir dan bebatuan yang ditumbuhi beberapa pohon di atasnya dengan Luasnya kurang dari 1 km persegi, di pulau mini juga terdapat semacam klenteng kecil, tempat warga Tionghoa setempat bersembahyang. Pulau yang Mungil ini menawarkan keindahan pemandangan pantai, laut, dan perbukitan yang mengelilinginya. Untuk Memasuki Pulau Simping, para Pengunjung jangan Kuatir, karna terlah tersedia jembatan yang bewarna putih yang terbuat dari Beton yang menghubungkan antara Pantai Sinka Park dengan Pulau terkecil ini.
Untuk Sampai Ke pulau Simping melalui Jembatan Putih ini tidak memakan waktu yang lama, hanya sekitar 10 menitan begitu, dan apa bila telah sampai di Pulau simping, siap - siap lah berebut tempat yang agak adem, karna di Pulau ini hanya di tumbuhi beberapa Pohon saja dan yang paling banyak adalah batu bebatuan dan pasir saja.



Selain Pulau simping yang berada di area Sinka Park ini, pengunjung bisa juga melirik ke Sinka Zoo atau jika ingin berenang, juga bisa memasuki kolam renang dengan Biaya 10 Ribu saja per orang, belum termasuk penyimpanan barang atau sewa baju untuk mandi 


Sumber & Gambar : VIVANEWS

Akhir Minggu di Kota Tua Jakarta Part I

Senin, 23 Mei 2011

Museum Fatahillah, Jakarta

Akhir minggu kemarin, saya diajak teman saya untuk hunting foto di kawasan Kota Tua, Jakarta. Lebih tepatnya di Museum Fatahillah. Tanpa ragu-ragu saya mengiyakan ajakan teman saya itu. Kesempatan bagus untuk melatih skill fotografi saya karena disana sudah pasti banyak objek-objek foto. Bahkan teriknya matahari pun tidak menyurutkan semangat saya untuk hunting foto di sini.
Benar saja, baru saja sampai di lokasi, saya sudah mendapatkan objek foto yakni segerombolan anak-anak SMP yang sedang bernarsis-narsis ria di depan Museum Fatahillah. Tingkah mereka sangat lucu, sepertinya semua anak tidak mau ketinggalan untuk bisa ambil bagian dari foto. Saya dan teman saya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak-anak jaman sekarang yang tingkat kenarsisannya sangat-sangat tinggi. Ada saja pose yang mereka perlihatkan. :)

Kenarsisan Yang Mengundang Tawa
 
Rupanya untuk masuk ke dalam Museum harus mengantri dulu membeli tiket seharga Rp. 2000,- untuk umum dan Rp. 1000,- untuk pelajar. Karena antrian pada saat itu masih sangat panjang dan masih dipenuhi anak-anak kecil dan remaja-remaja, maka saya dan kawan saya memutuskan untuk berputar-putar hunting gambar di luar museum dulu. Mata saya tertuju pada sepeda ontel di sebelah saya. bereksperimen lah saya dengan Canon EOS 400D saya dengan sepeda ontel ini sebagai objek dan inilah salahsatu hasilnya.

Sepeda Ontel
 
Kemudian lensa saya terarah kepada sepasang pemuda-pemudi yang sedang menjadi model foto temannya. Saya pun tak mau melewatkan kesempatan. Setelah memberi senyum kepada si fotografer sebagai permintaan izin untuk ikut memotret, saya pun langsung memotret. Kostum yang dipakai oleh mereka menurut saya benar-benar oldiest style. Mengingatkan saya pada pelajar jaman penjajahan Belanda karena cowoknya memakai setelan seragam jaman itu. Hmmm, lebih rapihan pelajar jaman dulu yah daripada sekarang. Kalau pelajar jaman sekarang bisa serapih itu, pasti akan lebih enak dilihat.


Objek Foto Dadakan Saya
 
Dari situ saya berkeliling lagi mencari objek foto. Dan saya melihat ada kerumunan orang sedang menonton suatu pertunjukan. Untuk mengetahui pertunjukan apa yang sedang mereka tonton, saya pun mendekat, dan ternyata mereka sedang menonton Kuda Lumping. Saya terkesima sejenak karena pertunjukan Kuda Lumping sudah sangat jarang terlihat. Sayangnya saya kebagian akhir-akhir pertunjukan hingga hanya sedikit foto yang bisa saya ambil, salah satunya foto dibawah ini ketika sang pawing kuda lumping sedang berusaha mengeluarkan makhluk gaib yang sedang merasuki pemain kuda lumping tersebut.

Kuda Lumping-Kesenian Tradisional Yang Hampir Punah
 
Akhirnya antrian itu pun berkurang dan kamipun memutuskan untuk segera masuk ke museum. Tapi sebelum masuk mata saya terpaku pada papan bercat orange yang bertuliskan “DISEWAKAN RP. 10RIBU ½ JAM SEPEDA ONTEL UNTUK FOTO2 PRA WEDING, KELILING KOTA TUA DLL”. Waduh, termasuk mahal untuk ukuran sewa sepeda ontel. Kalo dipatok harga 10ribu per jam mungkin mungkin masih masuk akal, tapi 10ribu per setengah jam? Sepertinya lama-lama pengusaha sewa sepeda ontel ini akan bangkrut karena ternyata kompetitornya ada yang menyewakan 7500 rupiah per jam.

10ribu untuk 1/2 Jam
 
Akhirnya masuk juga kami ke dalam museum yang didirikan sejak tahun 1620 oleh Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen ini. Gedung ini berfungsi sebagai Gedung Balai Kota. Menurut catatan sejarah, gedung ini awalnya hanya bertingkat satu. Setelah itu gedung ini terus menerus mengalami perbaikan hingga mencapai bentuknya seperti yang sekarang ini. Bahkan saat kami berkunjung kesana pun, sedang dilakukan pemugaran disana sini. Fasilitas yang terdapat di dalam museum ini adalah Perpustakaan, Kafe Museum, Toko Souvenir, Musholla, Ruang Pertemuan dan Pameran, dan Taman Dalam yang dapat dijadikan Tempat Resepsi Pernikahan.
Baru pertama masuk, saya langsung tertarik pada patung peraga yang memperagakan saat Pengeksekusian Narapidana. Rupanya dulu hukuman gantung menjadi bentuk hukuman yang paling sering dilakukan pemerintah Belanda.
Patung Peraga Hukum Gantung Pemerintah Belanda


Memasuki lebih dalam lagi museum ini, terdapat banyak alat-alat transportasi yang dulu menjadi alat transportasi utama masyarakat. Seperti becak dan andong. Saya mengalami kesulitan mengambil gambar andongnya karena saat itu sedang ada kelompok pelajar SD yang sangat ramai sedang mengelilingi andong tersebut sambil mendengar penjelasan dari gurunya. Hanya gambar becak ini saja yang bisa saya bagi kepada anda. Sementara saya mengambil gambar ini,  saya jadi berfikir apa jadinya kalau tidak ada mobil, motor, dan segala macam jenis alat transportasi dalam kota yang canggih lainnya. Mungkin orang akan bisa lebih menghargai waktu lagi mengingat waktu tempuh untuk sampai ke tempat tujuan sudah pasti akan sangat lama.

Becak Jaman Dahulu Kala

Kemudian kami memasuki satu ruangan dimana terdapat banyak benda-benda peninggalan bersejarah yang berupa guci, tembikar, dll.






Setelah merasa cukup mengambil gambar, kamipun memutuskan untuk keluar dari museum ini dan duduk di tamannya. Sirkulasi udara didalam museum sepertinya perlu diperbaiki lagi karena masih terasa pengapnya dan terasa begitu panas. Yang menarik perhatian saya di taman ini adalah patungnya. Entah kenapa, saya senang melihat patung ini.

Nah, setelah itu kami memutuskan untuk berpindah lokasi ke Museum Wayang yang masih berada satu lokasi dengan Museum Fatahillah ini. Tapi cerita saya mengenai hunting foto saya di Museum Wayang akan saya lanjutkan di posting berikutnya. ^_^