Mahalnya Kuliner Pinggir Jalan

Selasa, 04 Desember 2012




Momen  yang paling asik ialah ketika kita bisa menikmati wisata kuliner tepat dipinggir jalan, atau sering kita sebutnya jajanan kaki lima. Soal rasa  makanan dipinggir jalan memang memberikan sensasi kenikmatan terendiri bagi saya entah itu dari segi keramaiannya, udara atau bahkan mungkin dari maraknya pengamen yang datang silih berganti untuk menagih selogam dua logam uang receh.

Kadang kehadiran pengamen bisa jadi pelengkap suasana yang sunyi, namun apa jadinya jika keadaannya berbalik. Pengmen yang datang malah silih berganti seperti orang yang menagih jatah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tidak ada satu menit tiba-tiba dari arah barat ada pengamen lagi yang datang dan saya harus menyiapkan uang logaman lagi. Terkadang bila tak diberi malah si pengamen tersebut malah sengaja pura-pra tidak dengar atau bahkan meminta satu  batang rokok.

Ini mungkin bisa jadi moment yang menyebalkan ketika makan dipinggir jalan, seringkali lebih besar uang yang dikeluarkan untuk membayar pengamen dibandingkan makan dipinggir jalan. Ya begitulah, mungkin ada sebagian yang merasa pengamen bisa jadi seni ketika kita tengah menikmati kuliner dipingir jalan. Atau bahkan ada yang bergegas pergi ketika sudah selesai makan. 

Hal yang paling menyenangkan jika dihibur dengan pengamen yang sudah di setting mungkin oleh pemilik warung. Atu mungkin saja banyaknya pengamen memang sudah kompromi sebelmnya dengan pemilik warung. Kehadiran pengamen bisa jadi moment yang tepat juga apabila kita makan bersama orang tercinta. Satu atau dua buah lagu bisa menjadi request handal menyampaikan maksud hati. 


Walau bagaimanapun  inilah yang dinamakan dengan seni makan dipinggir jalan, jika anda tidak ingin diganggu oleh pengamen silahkan saja masuk ke kafe-kafe elit. Bagi saya kuliner dipinggir jalan  sudah sepaket dengan pengamen jalanan dan lebih keseringan buat saya bayar jasa menanyanyi pengamen lebih mahal daripada harga makanannya . :)

Sumber gambar dari : http://web.budaya-tionghoa.net , http://travel.detik.com

0 komentar:

Poskan Komentar